Menuju Mahligai Suci :
Ungkapan terindah lewat ucapan syukur kepada Allah SWT,
Do'a restu dan kehadiran Saudara/i menjadi kebahagiaan terukir,
Banyak yang ingin nie ceritakan. Sebab, buku sakti nie sekarang jarang kebawa, jadinya bener2 full nggak curhat sama sekali. Duhhh sampe binun nih mau mulai dari mana.
Tentang saat harus shoting di TVRI. Terus, acara Forum Silaturahim muslimah, yang mengundang tim nasyid kembarannya GRADASI, yaitu Gradakan. Masuk juga si insan jadi personilnya, cie..cie…(pantesan! Pas tampil, sesuai namanya)
Acara pra dan saat RAKERnya depera KELAUT di puncak.
Pusing, rapat-rapat-rapat! Miting-miting (mikir yang penting2 deh). Bayangin, rapat dari siang mpe tengah malem, pegel juga duduk terus, ngantuk juga. Tapi seru banget! Rapatnya keren, nggak bikin bete, orang2nya juga asyik.
Acara rihlahnya. Nah ini yang Seru bangets!
Gimana nggak? Rihlah ke Cibodas, hujan nggak bisa jalan2, LAPERR, nggak kebagian konsumsi, hoho kasian deh!
Akhirnya terobati, saat di danau, pemandangannya syahdu. Arena danau dikuasai kita dari KELAUT.
Nie mau coba-coba naik perahu.
Di perahu kita orangnya paling banyak.
Bayangin!!! baru naik kita udah pada teriak2 karena perahunya goyang-goyang gak seimbang, pas jalan perahunya masih goyang-goyang juga! Bujug! Deg-degan bangets. (Bayangin dah ente lagi ditengah danau.)
Goyang ke kiri, teriak, goyang ke kanan, teriak lagi! Akhirnya jalan juga…
Udah jalan, eh…nabrak didepan, jalannya lurus doang, masalahnya yang dayung gak bisa belokin, ho ho ho. Deg-degan lagi, soalnya hampir mau kecebur, karena semuanya tertawa, perahunya jadi goyang. Hua…hua…hua, yang ngeliatin tega! Pada ketawa aja.
Udah bisa belok, weits-weits-weits ditengah jalan maunya nabrak perahu orang terus! Hoho gak bisa, apa ganjen!
Nah, kalau paginya itu ada atraksi tim KEPANDUAN.
Saat didanau, kita bikin atraksi sendiri.
Coba menunduk…yaksss…bisa! Pas banget didepan kita perahunya para petinggi, direktur dan ketua-ketua. Semuanya mengucap takbir. Terus difoto, cie…hehe. Katanya foto itu mau jadi berita utama di buletin dpc. Pendayung di perahu kita adalah Bang Zal, pengusaha dpc. Katanya juga mau dijadikan bukti perselingkungan Bang Zal dengan 4 ce di perahu cibodas, waksss!
PUAS BANGETS! Bayar perahunya 2000 rupiah/orang. Untung kita gak nyewa tukang perahunya. Sok-sok belagu bawa sendiri, lebih menantang. Jadinya, mumpung gak ketahuan, perahunya kita bawa puas-puas aja keliling, berangkat paling awal, pulang belakangan. Hehe, ketauan banget nggak mau rugi dua ribu rupiah! Pas turun, curang! nggak ada yang bayar, yo weis ada Bang Zal, tengkyu ya! Jangan kapok! Hehe… :P
Ingin dihempaskan
Memasuki ruang kekesalan!
Biarkan saja hilang, pudar….
Terlewat…
Ternyata ada yang hilang
Kurindukan kekesalan
Bertemu lagi
Bertengkar lagi
Bercanda lagi
tertawa lagi
marah lagi
Iramanya masih tetap begitu
Yang unik,
Yang cuek
Yang emosional,
Yang masa bodo
Yang???…yah…aku sayang…
***
Sesaat kurasakan ternyata…marah itu baik, cinta itu baik, kesal itu juga baik, tinggal bagaimana kita memaknainya.
Maka kurasakan hubungan ini adalah hubungan kisah unik
Meski bila boleh ku jujur…
KADANG MENYEBALKAN!!!
Tapi pernahkah saudara merasakan,
Ketika sebal itu datang, kadang menimbulkan kerinduan.
Koq bisa ya? Kesal campur rindu?
Hhhh!!!
Raja gelegar mengguncang hati manusia saat itu
DuarrrR!!!
Tiupan angin semakin kencang.
Pun hujan…hujan…hujan datang…
Kemudian…
Seorang ibu datang tergopoh-gopoh.
Memegang erat sebuah payung tanpa alas dikakinya
Pakaiannya sedikit basah terkena basahan hujan saat itu.
“elang…elang…” Suara itu mengagetkanku.
Aku keluar rumah.
“elang ada neng?” tanyanya panik.
“oh…ada Bu, lagi belajar sama kak Riza”
Kasihan agaknya Ibu itu terlihat cemas sekali, aku segera memanggil Elang dari ruang belajar untuk menemui ibunya.
“Elang baik-baik aja
“nggak papa”. Jawab elang lugu. Ia masih SD.
Rupanya ibu itu khawatir, di wilayah rumahnya, hujan angin itu menyebabkan banyak atap rumah warga patah, panik!!!
Di hati seorang ibu, yang terpikir langsung adalah keselamatan anaknya.
Tanpa pikir panjang lagi, yang dilakukannya saat itu langsung keluar rumah untuk mengetahui keselamatan putranya yang saat itu sedang les belajar. Ibu itu mungkin nggak memperdulikan atap rumah atau rusaknya sebagian rumah yang dialaminya.
Melihat kejadian itu, hatiku benar-benar tersentuh.
Betapa besar kasih sayang ibu, sungguh betapa besar perjuangannya.
***
Hatiku jadi larut…Teringat kisah air mata,
Seusia Elang lah…disaat aku benar-benar dekat sama ibu, disaat curahan perhatian yang teramat besar mengalir dalam kasihnya. Allah menguji iman kami. Menguji kesabaran kami.
Disela-sela masa bahagia itu, Allah mentakdirkan agar aku bisa mandiri.
Allah memanggil ibu dari kami…
Kesedihanku semakin larut Ry!
Karena sebuah bentuk penyesalan yang mendalam.
Di akhir hayatnya, diakhir hidupnya. Aku tidak berada disampingnya Menemaninya, atau membantu menuntun melafazkan asma Allah dihari akhirnya…akuuuu tidak disana!!!
Saat tengah malam itu, aku kecil sedang dititipkan di saudara.
Hanya ikatan batin ibu dan anak yang terasa kuat saat itu. Aku tersentak bangun dari tidur yang hampa. Entah karena apa. Dalam gelap aku berteriak…SESAAK!
Ini yang masih membekas. Kini…selalu sesak yang kurasa dalam gelap.
Esok harinya…semua menangis pilu. Yang kutemui saat itu, hanya tubuh ibu yang terbujur kaku dikelilingi kerabat. Hanya pilu tangis air mata yang menghiasi wajahku hari itu.
Tak sanggup kutemui semua orang yang berkunjung, saat pun mereka menyampaikan pesan terakhir yang ibu berikan untuk semua kerabatnya:
“Jaga nia…rawat nia, nia anak baik”
tangisku semakin menjadi…betapa kasihnya benar-benar tulus, karena yang kuingat hanya kenakalan yang kuberikan, manja, usil, bahkan belum ada balasan kebaikan yang kuberikan untuknya, tapi beliau masih menyebutku anak baik? Betapa tak pantas kata itu untuk anak seperti aku…ibu, maafin aku…
Ry…Aku nggak sanggup menulisnya, terlalu banyak air mata yang keluar dibanding kata-kata disini…
Hanya doa yang kini selalu bisa kupanjatkan, semoga kebaikan yang kulakukan, menjadi nilai pahala yang mengalir buat ibu…
Mengikutimu, menjadi wanita paling derma yang pernah kutemui, aku belum bisa berbuat banyak untuk meneruskan kasihmu pada orang-orang itu. Sungguh…kebaikan ibu pada mereka, memberikan kasih tulus dari mereka untuk aku. Terima kasih ibu…
Akan kucoba teruskan kasih tulusmu itu pada yang lain…
***
Sebait kata dari saudaraku di Jatim, yang hampir setahun ini masih tersimpan dalam memori HPku:
Betapa banyak dia harus bersedih, agar kita senang.
Betapa banyak dia harus menangis, agar kita bisa tertawa.
Betapa banyak malam yang dilewatinya tanpa memejamkan mata,
agar kita bisa terlelap
Kesedihanmu adalah kesedihannya,
Bahagiamu adalah bahagianya
Dan itu yang selalu dia impikan
Insan yang selalu memberi kasih sayang tanpa pernah mengharap balasan
Pernahkah kau temukan ada orang yang menyayangimu lebih dari seisi dunia? bahkan dari dirinya sendiri? Yah…dialah IBU KITA!
Koq aku jadi larut ya? Fitrahkan kalau aku juga menangis…
Menyaring hati
Menyulam iman
Dalam kesendirian
Kudekap erat sunyi ini
Menelusuri detik waktu
Menggapai kejernihan
Menaksir wujud yang fana
Sunyi ini milikku
Menetasi eram peram rindu
Merisik sekilas percikan
Cahaya KEKASIH
(diambil dari Antologi puisi religius,
***
Kadang, aku semakin menyadari, dalam kesunyian inilah aku bisa mengenal diri.
Duduk atau berdiri
**
Juga saat mengikuti langit hujan menghampiri
Menatap langit menggapai air sejukkan diri.
Ternyata, air hujan itu nikmat saat tersentuh wajah ini
Bersama kurasakan dinginnya angin bintaro saat itu.
*
--abis kehujanan, nyambung gak seh?--